Mengupas SOE HOK-GIE Sebagai Komunisme
oleh Fernando Abdillah Putra Pasarean
Beberapa taun ini saya sering mendengar banyak aktivis mahasiswa mengidolakan soe hok gie sebagai idola dan panutan gerakan mahasiswa Taukah soe hok gie seorang pejuang komunisme.
Taukah kawan bawa penganut komunis itu takan berhenti meneriakan keadilan dan kesejahteraan di jalanan sebelum negara yang dirinya tinggali menjadi negara komunis, jika itu terwujud barulah mereka akan berhenti berteriak, karna keadilan menurut mereka adalah sosialisme.
Taukah kawan bahwa pahan sosialisme komunis juga itu anti agama, mereka berpendapat bahwa agama adalah satu penghalang dalam kemajuan negara.
juga berfikir orang yang berpolitik atas nama agama yang dalam artianya agama di jadikan alat politik untuk kepentingan kekuasaan walau padahal politik untuk kepentingan agama atau agama demi kepentingan politik itu kadang sulit di bedakan.
kebanyakan dari mereka mutlak selalu berfikir bahawa kebanyakan orang yang berpolitik dengan bendera agama itu adalah orang orang yang ingin mencapai kekuasaan pribadi dengan cara memanfaatkan agama demi kepentingan kekuasaanya, kenapa kenapa bisa demikian mereka berfikir ?
itu karna dotkrinisasi sudut pandang yang ditanamkan kepada mereka.
Kembali kepada pembahasan SOE HOK-GIE, apakah dia demikian, anda bisa lihat dalam film SOE HOK-GIE setiap gerak dan kata katanya, ia demi kian.
Taukah kawan bahwa pahan sosialisme komunis juga itu anti agama, mereka berpendapat bahwa agama adalah satu penghalang dalam kemajuan negara.
juga berfikir orang yang berpolitik atas nama agama yang dalam artianya agama di jadikan alat politik untuk kepentingan kekuasaan walau padahal politik untuk kepentingan agama atau agama demi kepentingan politik itu kadang sulit di bedakan.
kebanyakan dari mereka mutlak selalu berfikir bahawa kebanyakan orang yang berpolitik dengan bendera agama itu adalah orang orang yang ingin mencapai kekuasaan pribadi dengan cara memanfaatkan agama demi kepentingan kekuasaanya, kenapa kenapa bisa demikian mereka berfikir ?
itu karna dotkrinisasi sudut pandang yang ditanamkan kepada mereka.
Kembali kepada pembahasan SOE HOK-GIE, apakah dia demikian, anda bisa lihat dalam film SOE HOK-GIE setiap gerak dan kata katanya, ia demi kian.
Benarkah SOE HOK-GIE Kiri?
SOE HOK-GIE adalah tokoh intelektual muda yang sayangnya hanya berusia pendek sekali di dunia ini. Gie meninggal diusia 27 tahun. Tepat menjelang hari ulang tahunnya yang ke 27. Namun, diusia yang begitu singkat itu, ada begitu banyak jejak-jejak intelektual-perjuangan-romantisme yang telah ia tinggalkan, Pernahkan kawan tau hasil skripsinya; “Dibawah Lentera Merah” dan “Orang-orang Dipersimpangan Kiri Jalan”. Dari judulnya saja sudah kental aroma komunis; simbolisasi warna “merah”, dan penggunaan kata “kiri” dalam konteks pemikiran kaum Marxist, menjadi monopoli bagi kelompok komunis secara internasional.
Jika kita baca isi tulisannya tersebut, kita juga akan berpikiran bahwa Gie memang seorang “kiri”. Dua tulisan ilmiahnya tersebut memang menjadikan Partai Komunis Indonesia (PKI) sebagai objek penelitiannya. Dinamika yang dialami oleh kaum komunis Indonesia, dimulai dari awal kemunculannya –yang menggunakan organisasi Sarekat Islam cabang Semarang sebagai tools untuk membangun basis kepemimpinan dan jaringan, sampai dengan meletupnya percobaan kup yang dimotori oleh Kaum Komunis Indonesia (sebanyak tiga kali) mulai dari percobaan pertama (1926), percobaan kedua (1948), dan percobaan ketiga (1965).
Isi dari karya ilmiahnya tersebut begitu leftist. Bahkan, dalam filmnya yang dimotori oleh Mira Lesmana dan Riri Riza, suatu ketika Gie (Nicholas Saputra) tengah di-shoot membaca buku Albert Camus; The Rebel, yang mendapatkan ilham besar dari Karl Marx.
Gie juga dalam buku catatannya (Catatan Seorang Demonstran), mengakui bahwa dirinya seorang agnostic (tidak percaya Tuhan/agama). Hal ini juga “seolah” selaras dengan ajaran Marxist yang menganggap bahwa urusan agama adalah candu bagi masyarakat, yang dapat melemahkan perlawanan kelas proletar, dan (dalam pembabakan fase kehidupan versi Freud) manusia yang mempercayai agama, adalah jenis manusia yang mengalamui bentuk transformasi yang belum sempurna, sampai kemudian manusia itu “merdeka” dari belenggu dogma-dogma Tuhan, dan sepenuhnya “tercerahkan” dengan akal-pikirannya sendiri (aufklarung). Beberapa aliran ini juga bahkan menganggap agama sebagai penyebab permusuhan dan peperangan di muka bumi ini. Adanya perang salib, misalnya, adalah contoh bahwa agama memiliki kontribusi yang besar bagi ketidak-rukunan umat manusia. Maka, kehidupan yang tanpa mempercayai agama dan Tuhan, adalah usaha manusia untuk melampaui persoalan perbedaan kepercayaan (faith), dan mengedepankan humanisme universal sebagai titik pemersatu.







1xbet | 1xbet | Bet with a Bonus - RMC | Riders Casino
BalasHapus1XBet allows you to 1xbet 먹튀 bet on any favourite horse races or any other sporting ventureberg.com/ event. ✓ Get up to septcasino £300 + 200 Free งานออนไลน์ Spins poormansguidetocasinogambling No Deposit