Jumat, 23 Oktober 2020

Petaka Rezim Nepotisme Desa



 "Jika Desa Adalah Sebuah Negara Kecil, Tentunya Ada De Sentralisme Demokrasi Di Dalamnya, Bukan Kerajaan Apa Lagi Kepunyaan Keluarga"

Nepotisme berarti lebih memilih keluarga dekat dan teman akrab berdasarkan hubungannya bukan berdasarkan kapasitas yang dimiliki. Nepotisme biasanya dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kekuasaan, baik dalam lingkup kekuasaan besar maupun kecil. 

Dalam lingkup desa, praktek nepotisme juga terjadi. Dimana ada kades yang memposisikan anak dan keluarganya pada jabatan-jabatan strategis dalam penyelenggaraan pemerintahan desa, termasuk dalam pengelolaan dana desa.

Perbuatan kades yang melibatkan keluarga dalam urusan pengelolaan pemerintahan desa, oleh masyarakat dianggap sebagai perbuatan yang tidak baik dan termasuk dalam perbuatan tercela.

Memang banyak kekurangan dan kerugian manakala perangkat desa dikuasai lingkaran keluarga kades. Mulai dari profesionalitas dan proporsionalitas, sampai kualitas kinerja yang kadang selesai dengan jalur kekeluargaan.

Pada sisi lain, bila kroni kades yang menguasai sebuah pemerintah desa akan timbul gesekan-gesekan ditengah masyarakat. Padahal, kades berwenang membina kehidupan dan ketenteraman dalam masyarakat desa.

Nepotisme juga merupakan perbuatan yang bertentangan dengan kewajiban Kepala desa. UU Desa menjelaskan, setiap kepala desa berkewajiban melaksanakan prinsip tata Pemerintahan Desa yang akuntabel, transparan, profesional, efektif dan efisien, bersih, serta bebas dari kolusi, korupsi, dan nepotisme.

Praktik korupsi, kolusi dan nepotisme telah dikenal di masyarakat luas dengan istilah KKN.

KKN berdampak negatif di bidang politik, ekonomi dan moneter. 

Praktik KKN dapat merusak sendi-sendi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara serta membahayaan eksistensi negara. Sebenarnya apa itu KKN?

Pengertian KKN Dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme telah dijelaskan mengenai pengertian KKN. Dikutip dari situs resmi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI, berikut ini pengertian korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) : 

Korupsi adalah tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang tindak pidana korupsi. 

Kolusi adalah permufakatan atau kerja sama melawan hukum antar-penyelenggara negara dan pihak lain yang merugikan orang lain, masyarakat dan atau negara. 

Nepotisme adalah setiap perbuatan penyelenggara negara secara melawan hukum yang menguntungkan kepentingan keluarganya dan atau kroninya di atas kepentingan masyarakat, bangsa dan negara.

Harga mahal dalam  mewujudkan desa yang mandiri bebas dari kolusi, kurupsi dan nepotisme. Disana menunculkan berbagai kesenjangan sosial jika tidak di seimbangkan karena pemerintahan desa representasi terkecil dalam bentuk pemerintahan sebuah negara.

Seringkali di temukan di lapangan, dalam struktur pemerintahannya  yang dipilih kaur/aparatur desa yaitu dari dalam keluarga besar sendiri. Tidak bisa dipungkiri berarti dana insentif/siltap hanya beredar di batasan keluarga.

Sangat disayangkan bila itu terjadi, pemerintah yang sudah menyediakan regulasi yang bagus tentang dana desa, harus di cederai oleh oknum-oknum yang memperkaya keluarga sendiri.

Lebih mencengangkan lagi ada kepala desa, untuk memasang bola lampu jalan ditangani sendiri, apakah tidak ada warga lain untuk menangani nya? 

Dengan Dana Desa dalam satu sisi jika realita seperti itu maka akan menjadi pembelah keharmonisan desa. Desa yang dahulu kala hidup dengan rukun, bergotong royong dan penuh kebersamaan kini menghadapi problematika karena uang.

Harapannya bahwa  adanya regulasi yang lebih baik yang di lahirkan oleh pemerintah agar dana desa tidak mengundang petaka, sehingga orang-orang desa bisa hidup tidak saling mencurigai. 

Pun demikian, di desa semua stagholdernya harus mawas diri bahwa uang yang diberikan pemerintah tersebut bukan milik kelompok atau golongan. Uang tersebut milik masyarakat pada umumnya.



Share:

Senin, 01 April 2019

puisi : inilah suara kami













puisi : inilah suara kami
oleh fernando abdillah

Semangat Demokrasi Di era reformasi.
Pesta nya selalu di nanti untuk memilih  memimpin Sejati.

Jika demokrasi...
Suara bisa di beli
Seberapa kah harga dari harga diri,
Harga manusia itu sendiri,
Harga Demokrasi itu sendiri,
Harga satu negri itu sendiri,

Bangsa kami bangsa yang menjunjung harga diri,
Terlihat saat dulu para pejuang kami ketika mengorbankan diri,
Mengorbankan agar negara ini berdiri,

Demokrasi kami
Demokrasi yang berdiri
Dengan tumpah darah pejuang kami

Hei tuan yang hendak berniat ikut membangun negeri ini,
Dengan Demokrasi,
Tolong jangan sekali kali
Kotori negeri demokrasi kami,
Kami ikut dalam pesta demokrasi,
Jangan kau cederai Rai Rai kami,
Ingat tuan yang mencoba membeli suara kami dengan nilai ekonomi,

Wahai tuan saya ingatkan mulai hari ini,
Bangsa kami bangsa yang punya harga diri yang sangat tinggi,
Dan setiap Rai Rai dari diri diri Memiliki kehormatan yang tinggi,
dan nilai dari manusia bangsa kami juga bernilai sangat tinggi,
Jangan bermimpi bisa kau beli suara Rai Rai kami dengan nilai ekonomi
Share:

Sabtu, 29 Desember 2018

Geotermal dan tanah pamijahan

Geotermal dan tanah pamijahan
(Oleh Fernando Abdillah putra pasarean aktivis mahasiswa)

Istilah yang sering masyarakat kita dengan dahulu di tanah pamijahan itu adalah chevron yang sekarang menjadi start energi geotermal energi panas bumi, apakah akan membawa bencana alam di bumi pamijahan?
Ahir akhir ini di berita media kita melihat bencana tsunami, gempa, puting beliung dan lain lain, apa di bumi pamijahan kab.bogor ini rawan bencana?
Dapat kita ketahui bahwa bencana yang di wanti wanti warga di sekitar gunung salak adalah meletusnya gunung tersebut,
Apakah pengeboran bumi oleh geotermal start energi di kaki gunung salak tidak berpengaruh terhadap gunung salak yang masih aktif yang kapan saja bisa meletus?
Kira sering dengar di media media online kemarin kemarin bahwa gunung salak sudah mulai gempa gempa.
Apakah ada kaitannya dengan geotermal?
Apakah geotermal bisa berbahaya kepada bumi pamijahan bogor khususnya?
Lalu apakah itu energi panas geotermal ?

Geothermal adalah sebuah sumber daya energi yang berasal dari perut bumi yang termasuk sumber energi baru saat ini. Nama geotherma sendiri diambil dari sebuah nama dari bahasa yunani. Geo dalam bahasa yunani artinya PANAS, sedangkan Thermal yang berarti BUMI. Jadi secara umum pengertian dari geothermal adalah energi panas yang dihasilkan dari panas bumi.

Di indonesia sendiri sebagai negara yang memiliki iklim tropis, sangat banyak sumber energi panas bumi, dan saat ini tercatat sudah puluhan perusahaan menggunakan geothermal sebagai pembangkit tenaga listrik untuk kebutuhan produksi. Secara garis besar apabila di indonesia bisa memanfaatkan energi panas bumi ini, kemungkinan pembangkit listrik tenaga air dan tenaga diesel akan banyak beralih ke geothermal, selain hasil panas bumi ini ramah lingkungan, juga bisa di ambil langsung dari sumber daya yang ada di indonesia.

Dampak Negatif Geothermal Bagi Bumi

Dampak negatif geothermal yang nyata dan dapat kita lihat saat ini adalah proses pengeboran yang terjadi di Perusahaan Lapindo. Perusahaann yang awalnya ingin memanfaatkan enegi dari dalam bumi untuk di oleh kemudian, justru menyebabkan luapan gas mentah yang terus keluar tanpa dapat dikendalikan. Mungkin itu satu dari banyaknya contoh akibat yang bisa terjadi bila pemanfaatan energi geothermal kurang dilakukan dengan baik. Selain kasus amblasnya permukaan tanah yang terjadi di negara Selandia Baru yang menimbulkan adanya lubang besar di permukaan tanah juga akibat dari pemanfaatan energi geothermal yang kurang tepat.

Selain itu kejadian gempa bumi berkekatan 3,4 SR yang terjadi di Bassel, Swiss serta pengangkatan tenaga tektonik di salah satu proyek energi panas bumi di Staufen, Jermal juga melengkapi adanya dampak negatif geothermal bagi bumi. Selain beberapa contoh tersebut dampak negatif geothermal(energi panas bumi) juga dapat menyebabkan rusaknya kehidupan di bumi dalam jangka waktu panjang.

Dampak yang di akibatkan oleh pemanfaatan energi panas bumi memang cukup besar, hal tersebut tak lain disebabkan oleh adanya senyawa fluida yang di tarik dari inti bumi bersamaan gas buangan yang dapat merusak keadaan bumi nantinya.

Inilah gas keluaran dari aktivitas fluida yang disebabkan oleh pemanfaatan energi geothermal :

Gas Karbondiksida atau CO2Metana atau CH4Amonia atau NH3Hidrogen Sulfida H2s

Selain itu dampak negatif geothermal juga dapat mempengaruhi rusaknya lapisan ozon bumi dan menyebabkan adanya efek rumah kaca dan juga hujan asam di dalam bumi. Tak hanya itu saja dampak dari geothermal juga dapat merusak ekosistem yang berada di lokasi pemanfaatan konservasi energi panas bumi. Dampaknya berupa adanya pencemaran lingkngan sekitar karena energi ini tak lain membawa gas buangan yang dapat tercampur ke dalam sumber mata air seperti Arsenik, Merkuri, Antimon, Boron dan juga garam kimia yang terlepas dan tercampur ke dalam sumber mata air. Itulah sekilas mengenai dampak negatif dari pemanfaatan energi panas bumi atau geothermal.

Share:

Kamis, 22 November 2018

peran kaum milenial dan politik bonus demografi


peran kaum milenial dan politik bonus demografi
(oleh fernando abdillah putra pasarean Aktivis mahasiswa Bogor)  
Batas usia pemilih di Indonesia adalah 17 tahun, salah satu batas termuda di dunia. Lebih dari setengah pemilih di negara demokrasi terbesar di Asia Tenggara ini berusia di bawah 35 tahun, para generasi milenial. Lantas apakah, pemilih baru ini akan mengubah peta politik Indonesia di masa depan?
Generasi muda di Indonesia ingin suara mereka didengar. Dan kesempatan yang akan mewujudkannya adalah dengan memberi suara mereka dalam pemilihan umum—yang diadakan sekali tahun ini untuk pemilu kepala daerah dan di tahun 2019 untuk pemilu legislatif dan Presiden yang akan berlangsung secara bersamaan.
Pemilih milenial merupakan demografi penting di negara demokrasi terbesar di Asia Tenggara ini. Sejak tahun 2004, jumlah pemilih muda—orang-orang di antara usia 17 dan 25—telah meningkat dari 18 hingga 30 persen. Saat ini, lebih dari setengah dari 196,5 juta pemilih Indonesia berusia di bawah usia 35 tahun (www.matamatapolitik.com Angaindrankumar Gnanasagaran The Asean Post)
Tahun 2019 akan berlangsung Pemilihan Umum secara serentak, mulai dari Pemilihan Presiden (Pilpres) sampai Pemilihan Legislator (Pileg). Persiapan sudah dilakukan sejak awal Agustus 2018. Dimulai dari pendaftaran bakal calon legislator, bakal calon Presiden dan Wakil Presiden, sampai pengesahan calon.
Tentunya Pemilu serentak tahun 2019 nanti adalah awal dari penerapan peraturan dan undang-undang yang baru, parpol peserta pemilu harus bisa menyesuaikan strategi politiknya. Perubahan kebijakan politik di tahun 2019 tentunya membawa perubahan pandangan di Negara ini.
Tentunya perubahan ini dipengaruhi oleh kondisi politik kita di tahun-tahun sebelumnya. Ada beberapa hal baru dan/atau hal yang diperbarui dalam rangka menjelang pemilihan umum serentak. Seakan pandangan pemilihan umum tahun 2019 akan berbeda sekali dari tahun-tahun sebelumnya.
Kaum millennial merupakan bonus demografis bagi partai politik
Sebelum kita masuk pada pembahasan, kita urai dulu istilah kaum millennial. Kaum ini merupakan generasi muda masa kini yang saat ini berusia antara 15–34 tahun. Akhir-akhir ini istilah tersebut sering digunakan oleh politisi dalam menyusun strategi politik.
Target mendekati kaum millennial oleh sejumlah partai politik tidaklah salah. Karena jumlah kaum millennial pada pemilu 2019 menurut pengamat politik Voxpop Center Pangi S Chaniago jumlahnya mencapai 40%.
Kaum millennial sejatinya selalu up to date dengan informasi dan teknologi, memperbarui informasi sebagai wawasan, dan cara pandang dengan memanfaatkan kemajuan teknologi yang tengah berkembang. Begitu juga perihal pandangan politik, kaum ini sangat dipengaruhi oleh informasi yang berkembang melalui media sosial.(www.idntimes.com Pemandangan Politik dan Kaum Millennial)
POSISI generasi milenial sangat diperhitungkan pada tahun politik sekarang ini. Mereka adalah bagian dari penentu kemajuan dan keberhasilan demokrasi, baik di tingkat daerah maupun nasional. Berdasarkan data Komisi Pemilihan Umum (KPU), jumlah pemilih milenial mencapai 70 juta–80 juta jiwa dari 193 juta pemilih. Artinya, sekitar 35–40 persen memiliki pengaruh besar terhadap hasil pemilu dan menentukan siapa pemimpin pada masa mendatang. Salah satu hal penting yang kerap terjadi pada pelaksanaan pemilu adalah soal perebutan kekuasaan yang bisa melahirkan persaudaraan atau bahkan bisa menimbulkan permusuhan. Keduanya mudah sekali terjadi. Dalam demokrasi, ada yang namanya kawan dan lawan politik dan ini juga berlaku untuk para pendukung setiap calon. Sekalipun, dalam politik tidak ada baik kawan maupun musuh abadi, semua hal tadi bisa terjadi, tergantung permainan waktu dan kepentingan. Banyak politisi yang semula lawan menjadi kawan politik begitu juga sebaliknya. Dalam hal ini, partisipasi politik generasi milenial tentu sangat substansial karena dari persentase jumlah pemilih, generasi milenial menyumbang suara cukup banyak dalam keberlangsungan Pemilu 2019.
 Generasi milenial menjadi sasaran empuk bagi politisi-politisi yang ingin mengajukan diri sebagai anggota dewan karena kondisi idealis pemuda yang mudah sekali dipengaruhi tentang keberpihakan. Dengan peran generasi milenial sebagai pemilih yang memiliki sumbangsih terhadap suara hasil pemilihan yang cukup besar, maka posisi generasi milenial menjadi sangat strategis untuk menjadi objek sasaran pemungutan suara. Beberapa tahun belakangan ini, semakin banyak politisi yang menyadari pentingnya peran media sosial sebagai cara untuk memperoleh kemenangan pada pemilu. 
Pada Pemilu 2014, diperkirakan ada sekitar 18,3 juta pemilih pemula dari kalangan generasi muda berusia antara 17 dan 24 tahun. Dilihat dari sisi usia, kemungkinan sebagian besar di antara mereka adalah pengguna media sosial. Mereka diharapkan dapat menggunakan hak pilihnya dalam pemilu dan menjadi incaran para partai politik dan politisi untuk diraih suaranya. Memberikan suara pada pemilu merupakan salah satu bentuk partisipasi politik. Namun, partisipasi politik tidak semata-mata diukur berdasarkan pemberian suara pada saat pemilu. Pada dasarnya, ada banyak bentuk partisipasi politik, seperti mengirim surat (pesan) kepada pejabat pemerintahan, ikut serta dalam aksi protes atau demonstrasi, menjadi anggota partai politik, menjadi anggota organisasi kemasyarakatan, mencalonkan diri untuk jabatan publik, memberikan sumbangan kepada partai atau politisi, hingga ikut serta dalam acara penggalangan dana. Seberapa jauh tingkat partisipasi generasi muda dalam bidang politik sering kali menjadi bahan perdebatan. Generasi muda sering kali dianggap sebagai kelompok masyarakat yang paling tidak peduli dengan persoalan politik. Mereka juga dianggap kerap mengalami putus hubungan dengan komunitasnya, tidak berminat pada proses politik dan persoalan politik, serta memiliki tingkat kepercayaan rendah pada politisi serta sinis terhadap berbagai lembaga politik dan pemerintahan (Pirie & Worcester, 1998; Haste & Hogan, 2006). 
Pandangan ini sering kali dibenarkan dengan data yang menunjukkan bahwa generasi muda yang bergabung ke dalam partai politik relatif sedikit. Mereka juga cenderung memilih menjadi golput dalam pemilu. Namun, sejumlah studi menunjukkan kekeliruan pandangan sebelumnya yang menganggap generasi muda tidak tertarik pada politik. Studi tersebut menyebutkan bahwa generasi muda adalah kelompok yang dinilai paling peduli terhadap berbagai isu politik (Harris, 2013). Penelitian yang dilakukan EACEA (2013) terhadap generasi muda di tujuh negara Eropa menghasilkan kesimpulan bahwa generasi muda mampu mengemukakan preferensi dan minat mereka terhadap politik. Sebagian dari mereka bahkan lebih aktif dari kebanyakan generasi yang lebih tua. Mereka juga menginginkan agar pandangan mereka lebih bisa didengar. Namun, bentuk partisipasi politik generasi muda dewasa ini cenderung menunjukkan perubahan dibandingkan dengan generasi pendahulunya. Jika pada masa lalu bentuk partisipasi politik lebih bersifat konvensional dan cenderung membutuhkan waktu lama, misalnya aksi turun ke jalan melakukan demonstrasi atau boikot, tindakan politik (political actions) generasi muda dewasa ini dipandang sebagai sesuatu yang "baru" karena tidak pernah terjadi pada masa satu dekade lalu. Contohnya adalah partisipasi politik melalui internet dan media sosial. Tindakan politik generasi muda masa kini memiliki sifat cenderung lebih individual, bersifat spontan (ad-hoc), berdasarkan isu tertentu dan kurang terkait dengan perbedaan sosial.
 Hal ini terjadi akibat pengaruh globalisasi dan individualisme serta konsumsi dan kompetisi. Masyarakat di negara demokratis dapat berpartisipasi dalam kehidupan politik, setidaknya dengan tiga cara berbeda. Pertama, masyarakat dapat terlibat dalam arena publik untuk mempromosikan dan menyampaikan tuntutannya kepada siapa saja yang ingin mendengarkan, seperti ikut terlibat dalam berdemonstrasi. Kedua, masyarakat dapat menjadikan lembaga pembuat undang-undang (legislatif) atau lembaga eksekutif sebagai target pesan politik yang ingin disampaikan, misalnya menandatangani petisi. Ketiga, masyarakat dapat terlibat dalam proses seleksi dari orang-orang yang ingin menduduki jabatan publik. Contohnya dengan memberikan suara pada pemilu atau mencalonkan diri untuk jabatan publik. Dalam berbagai literatur, tidak terdapat suatu pengertian yang diterima secara universal mengenai apa yang dimaksud dengan partisipasi politik. Studi terhadap pengguna sosial media di Indonesia masih sangat terbatas dan studi lebih lanjut masih sangat dibutuhkan untuk mengungkapkan sifat dan karakteristik pengguna sosial media yang jumlah sangat besar dewasa ini. Di samping itu, generasi milenial diharapkan mampu membawa dinamika politik yang sehat dan dinamis. Tahun 2019 merupakan momentum politik yang membutuhkan peran generasi milenial yang cakap media, tanggap, kreatif, dan advokatif. Langkah-langkah strategis generasi milenial dalam mengisi pesta demokrasi dapat dilakukan dengan beragam cara, misalnya mendorong gerakan antigolput atau kampanye hashtag yang positif demi pemilu berkualitas.(nasional.kompas.com,Beda Cara Generasi Milenial dalam Politik)



Share:

Senin, 08 Oktober 2018

Politik Beradab ditengah Praktik Pragmatis Dan Peran Strategis Generasi Muda

Assalamualaikum
salam silaturahmi, salam santun, dan salam darah muda. Fernando abdillah putra pasarean aktivis mahasiswa bogor.

Politik Beradab ditengah Praktik Pragmatis
Saat ini untuk sebagian kalangan masyarakat Indonesia, politik merupakan hal yang kurang disukai, bahkan dibenci. Hal ini dikarenakan, prilaku para politikus yang tidak konsisten antara yang diucapkan dengan tindakan dilapangan. Selain itu banyak politikus yang terjerumus kedalam prilaku-prilaku yang tidak terpuji menyangkut harta negara (korupsi), baik ditataran eksekutif, legislatif bahkan yudikatif. Hal ini menyebabkan timbulnya sikap apatisme dimasyarakat, mereka terjatuh kedalam jurang kehidupan yang hedonis, dan malas, sehingga menimbulkan munculnya pemaknaan politik pragmatis dikalangan masyarakat.
Pemaknaan politik pragmatis ini kian meluas seiring praktik pragmatis yang marak dilakukan oleh para politisi. Media menjadi aktor utama yang memiliki peran signifikan pada proses tersebut. Bagi media, praktik-praktik politik pragmatis seperti korupsi, penerimaan suap, gratifikasi, dan lain sebagainya menjadi materi berita yang bernilai jual tinggi. Pemberitaan politik yang terus dilakukan media pada akhirnya membentuk opini publik bahwa proses politik hanya terbatas pada usaha akomodasi kepentingan pribadi.
Berdasarkan praktik yang berlangsung dan terus berkembang, politik selalu dikaitkan dengan usaha politisi atau pemegang kekuasaan untuk memenuhi kepentingan pribadi semata. Proses politik hanya diarahkan untuk mengakomodasi kepentingan, kebutuhan, kebahagiaan dan kesejahteraan individu sehingga sering disebut sebagai proses yang pragmatis. Pola pikir yang kemudian diterima sebagai kebenaran oleh masyarakat luas yaitu politik adalah proses yang 'kotor' dan tidak bermanfaat bagi kesejahteraan umum. Politisi juga dipandang sebagai aktor yang tidak memiliki dasar moral yang baik atau dapat dikatakan tidak beradab.
Perilaku para politisi yang berfokus pada kepentingan pribadi secara tidak langsung mendidik publik untuk menerima pemahaman bahwa politik adalah proses yang sangat pragmatis. Pada akhirnya proses ini mengaburkan definisi dan praktik politik beradab. Pandangan bahwa politik secara etis dilaksanakan untuk tujuan yang mulia justru tergantikan oleh pandangan umum bahwa politik itu 'jahat' dan hanya bermanfaat bagi para penguasa.

Peran Strategis Generasi Muda
Ditengah dominasi media dalam menyebarluaskan paham politik pragmatis, terdapat harapan pada generasi muda untuk menghadirkan kembali makna politik normatif dan praktik politik beradab. Harapan ini muncul saat mereka semakin jenuh dengan praktik politik yang menempatkan kepentingan-kepentingan individu di atas kepentingan umum. Asa tersebut juga menguat seiring perkembangan bentuk-bentuk partisipasi dan berbagai gerakan politik informal yang digagas oleh generasi muda.
Peran generasi muda sebenarnya tidak hanya terbatas pada partisipasi politik. Lebih dari itu, mereka memiliki peran yang sangat strategis dalam menyebarkan makna politik beradab. Generasi muda bahkan dapat disebut sebagai poros terdepan dalam gerakan revolusi budaya politik di tengah masyarakat. Mereka menjadi tumpuan perubahan pola pikir politik dari pemaknaan pragmatis ke pemaknaan normatif.
Golongan muda dinilai mampu membawa perubahan kesejahteraan dan dipandang memiliki dasar etika yang lebih baik dalam berpolitik. Melalui teladan perilaku politik pemimpin muda, masyarakat semestinya mulai sadar dan terdidik bahwa proses politik tidak hanya terbatas pada usaha mengakomodasi kepentingan pribadi namun merupakan proses perjuangan kepentingan bersama.
Di era teknologi yang maju pesat seperti saat ini, generasi muda menjadi golongan masyarakat yang paling dekat dengan media. Kaum muda adalah kelompok masyarakat yang paling 'melek' teknologi. Media berbasis teknologi yang terus berkembang, termasuk berbagai bentuk media sosial, selalu dapat diakses dan dimanfaatkan oleh generasi muda. Melalui kreativitas dan aplikasi teknologi pada media, golongan muda dapat dengan mudah menyebarkan pesan dan memberikan keteladanan bahwa politik tidak selamanya buruk namun sangat bermanfaat bagi pencapaian tujuan kesejahteraan umum.

Share:

Minggu, 01 Juli 2018

Mengkaji Indikasi Sekulerisme Menuju Arah Paham Komunisme


Oleh fernando abdillah Putra Pasarean Aktivis Mahasiswa Bogor
Sekulerisme Menuju Arah Komunisme
Komunisme ialah paham anti Tuhan yang diusung oleh tokoh – tokoh kenamaaan Barat. Sebut saja Vladimir Lenin (1870-1924) sang pendiri negara adidaya Unisoviet. Beliau sangat giat menggembar-gemborkan ideology komunisnya. Walau kekuasaannya digantikan oleh Stallin dalam perkambangan negara Rusia. Namanya selalu dikenal dengan bapak komunis dunia. Kemudian Karl Marx (1818-1883) komunis Yahudi satu ini juga mempengaruhi masyarakat Eropa kala itu. Buku Das Kapital-nya mampu membuat dunia selalu mengingatnya walau sebenanya beliau tidak sukses dalam menangani dirinya sendiri – termasuk keluarganya – tetapi ajarannya Marxisme mampu diadopsi sekaligus dilarang di beberapa negara.
Hubungannya dengan Sekularisme ialah dimana sekularisme paham yang menyatakan pelarangan terhadap agama dalam pengaturan tatanam hidup orang banyak dalam satu negara. Maka tidak menutup kemungkinan bila satu paham berbahaya yaitu komunisme dapat masuk kedalam intitusi negara kapan saja. Dan agama diminta tidak boleh menentang Karena berbenturan dengan HAM dan juga demokrasi. Padahal sejatinya agama adalah pelindung kehidupan masyarakat dari paham-paham yang kelak akan bersifat destruktif kepada banyak pihak. Misalnya kemerdekaan Indonesia yang merupakan tumpah darah para ulama, para pejuang muslim yang ikut langsung mempertahankan serta memperjuangkan agar terwujudnya pengibaran bendera merah putih untuk merdeka.
Kemunculan paham Sekularisme itu sendiri sebenarnya dikarenakan oleh pemikir dan cendikiawan serta rakyat jelata yg dikecewakan oleh system pemerintahan agama Katolik, dan pemikiran derivatnya yaitu menelurkan liberalisme serta pluralisme. Dan tak lupa kapitalisme, lalu demokrasi merupakan skema yang disiapkan untung menjadi perisai agar masyarakat eropa tidak lagi terjerumus pada trauma masa lalu(masa Dark Ages abad 5-15) jadi negara dan agama dapat bersatu.(1) Para cendikiawan yang melihat secara sudut pandang filosofi menganggap bahwa kehidupan dapat dijlani paling baik dengan menggunakan etika, dan pengertian paling baik dari alam semesta, melalui proses argumentatif, tanpa merujuk kepada satu Tuhan(monoteis) atau banyak Tuhan ataupun juga konsep supranatural.
Yang dimaksud “masa kegelapan” (Dark Ages) yang terjadi diabad pertengahan yakni ketika saat masyarakat Eropa sudah terlalu lama hidup tanpa pegangan/petunjuk hidup yang lurus sehingga hidup mereka terlunta-lunta ditengah kegelapan, kekeufuran, kejahiliyahan. Eropa dilanda kezaliman dalam semua praktek kehidupan. Penyebab utamanya ialah fatwa dan ajaran agama Kristen yang diperjual belikan para pendeta demi keuntungan dunia mereka dan kepentingan penguasa/raja/kaisar dan tuan tanah(pengusaha). Bahkan sampai terjadi jual beli surat pengampunan dosa.(2) Beberapa pihak berpendapat bahwa otoritas gerejalah yang membuat mereka terkungkung dizaman kegelapan. Tercatat, gereja dizaman itu hampir mendominasi seluruh sisi kehidupan masyarakat Eropa dan tidak boleh ada suatu pemahaman yang bertentangan dengan dogma gereja.
Beberapa ilmuwan yang mengemukakan pendapatnya tetapi bertentangan gereja dihukum seperti Coppernicus, Galileo Galilei dan Granado. Padahal kemudian hari pendapat merekalah yang benar. Lalu masyarakat Eropa tersadar bahwa jika Eropa ingin mengalami kemajuan mereka harus lepas dari kungkungan gereja. Akhirnya sebagian masyarakat emosinya memuncak dibarengi gerakan revolusi pada hampir semua bidang- termasuk pemikiran – pemberontakan terhadap otoritas gereja demi mewujudkan kehidupan sekular. Masa kegelapan berganti menjadi Renassaince atau yang lebih dikenal dengan nama “abad pencerahan”. Dan mulailah bermunculanlah para pemikir terkenal seperti Charles Darwin, Karl marx, Adam Smith, Max Weber dan sebagainya.(3)
Singkat Cerita PKI
Lalu apakah lahirnya PKI(partai komunis Indonesia) di NKRI merupakan dikarenakan paham sekularisme ataukah murni ini kasus penghianatan. Komunisme pernah menghiasi sejarah kelam Indonesia. Dimana satu ras melakukan pemberontakan dengan tujuan mengkudeta pemerintahan resmi, yang tentunya pemerintahan yang telah berjuang dalam badai peperangan Belanda beseta sekutunya. Aksi kejamnya yang dilakukan setiap dasawarsa di tahun 1926 – 1948 – 1965 selalu saja memakan korban yang tidak sedikit. Kesadisan menjadi cirikhas dalam setiap penyerbuan yanhg mereka lakukan. Tetapi sayangnya sejarah kelam PKI dianggap scenario atau terkesan by design, jadi masyarakat awam enggan lagi membaca atau mengingat kejahatan PKI. Parahnya menganggap PKI sebagai angin lalu yang sudah tertiup zaman tidak dianggap lagi bahaya juga harus dilupakan.
Padahal mereka beserta generasinya menjanjikan bahwa PKI akan bangkit kembali. dan membaur bahkan mungkin mengkudeta Indonesia kembali. pernyataan Sudisman, CC-PKI, dalam siding Mahmilub 1967: “jika saya mati sudah tentu bukannya berarti PKI ikut mati bersama dengan kematian saya. Tidak sama sekali tidak. Walaupun PKI sekarang sudah rusak berkeping-keping, saya yakin ini hanya bersifat sementara., dan dalam proses sejarah, nanti PKI akan tumbuh kembali sebab PKI adalah anak zaman, yang dilahirkan oleh zaman” (5) Komunisme bukan paham baru di Indonesia, ia telah tumbuh dan berkembang sebelum Indonesia merdeka.
Tapi ingat Komunis tidak pernah berperan dalam memerdekakan Indonesia. Sneevliet (ISDV”Partai Sosial Demokrat Hindia) adalah tokoh yang pertama kali menyebar luaskan paham ini di bumi pertiwi, bersama-sama dengan kawan dari Hindia-Belanda seperti J.A Bransteder, Ir A. Baars DR Rinkers. Mereka memulai gerakan dengan menyusup ke dalam organisasi kemasyarakatan yang ada dan media massa. Lalu memecah belah Sarekat Islam (SI) menjdai SI Putih, anti Komunis (HOS Cokroaminoto, Agus Salim, Abdul Muis dkk) dan SI Merah yang dipimpin oleh tokoh-tokoh Komunis kader ISDV (Semaun, Darsono dkk)
Pemberontakan dimulai melawan kolonial Belanda pada tahun 1926, namun gagal total. Dan tokoh mudanya Musso berhasil melarikan diri ke luar negeri. Kembali melakukan pemberontakan di tahun 1948, kembali gagal. Dan melancarkan kudeta besar-besaran membunuhi masyarakat serta jendral-jendral RI kemudian dimasukan ke sumur tua“Lubang Buaya” pada 30 September 1965 yang dikenal dengan peristiwa G30S/PKI. Tetapi jelas mereka gagal lagi Allah SWT menyelamatkan bangsa Indonesia dari penghianat bangsa bernama PKI. Dengan tegas pun kita tidak boleh memberi ruang gerak pada paham Komunisme, karena jelas akan mendatangkan derita bagi rakyat. Dengan jargon “sama rata, sama rasa” ini terlihat sangat sosialis namun ingat sosialis kiri tidak akan pernah ramah pertahadap agama apapun, terutama Islam.
Perlu kita tekankan kembali UUD Republik Indonesia No 27 Tahun 1999, yang jelas melarang kegiatan kejahatan atads nama komunisme. Juga pada “Putusan Kongres Alim Ulama Seluruh Indonesia di Palembang, 8 s/d 11 September 1957”. (5) Menangkal Kebangkitan PKI, strategi perlawanan nasional menjaga keutuhan NKRI,
Jika ditarik kesimpulan, apakah paham Sekularisme yang seolah tidak peduli dan tidak boleh mengatur kehidupan masyarakat diterapkan ini, kemudian dengan perlahan paham Komunisme hadir kembali dengan gamblang, lalu agama tidak boleh ambil tindakan mengenai ini, hancurlah sudah negeri tercinta ini dengan kekacauan seada-adanya. Muslim dengan keTauhidannya dan tekad pamungkasnya yang melekat didada“Amar Ma’ruf Nahi Munkar” layak menjadi acuan dan ntonggak kebanggan dalam mempertahankan keutuhan NKRI. (QS Al Anfaal [8] : 60)
_______________________
1. Felixsiauw.com/bahaya sekularisme, pluralism dan liberalism
2. Islampos.com, Sekularisme dan gagasan Tuhan membusuk
3. Eramuslim, Sekuler dan Islam saatnya jalan berpisah, Muhammad Yusron Mufid.
4. Kontribusi Islam Terhadap Ilmu Pengobatan sebuah pengantar memahami Thib Nabawi, Shubhi Sulaiman
5. Menangkal Kebangkitan PKI- strategi perlawanan nasional menjaga keutuhan NKRI, Alfian Tanjung, Taruna Muslim Press

Share:

Sabtu, 09 Juni 2018

menggupas kisah di akhir hayatnaya tokoh sekuler Mustafa Kemal Atatürk


mengupas kembali kisah wafatnya Mustafa Kemal Atatürk penggagas negara sekulerime turki.
( oleh Fernando abdillah )


Beredar kabar sampai mendunia kisah mejelang kematianya tubuhnya di penuhi dengan penyakit dan mayatnya tak ada yang mau menyolatkan sampai tubunya tidak bisa di kubur hingga bertahun tahun.
Sekularisme atau sekulerisme dalam penggunaan masa kini secara garis besar adalah sebuah ideologi yang menyatakan bahwa sebuah institusi atau badan negara harus berdiri terpisah dari agama atau kepercayaan.
. 
Mustafa Kemal Atatürk (lahir di Selânik (sekarang ThessalonikiYunani), 12 Maret 1881 – meninggal di Istana DolmabahçeIstanbulTurki10 November 1938 pada umur 57 tahun), hingga 1934 namanya adalah Ghazi Mustafa Kemal Pasha, adalah seorang perwira militer dan negarawan Turki yang memimpin revolusi negara itu. Ia juga merupakan pendiri dan presiden pertama Republik Turki.
Mustafa Kemal membuktikan dirinya sebagai komandan militer yang sukses sementara berdinas sebagai komandan divisi dalam 
Pertempuran Gallipoli. Setelah kekalahan Kekaisaran Ottoman di tangan tentara Sekutu, dan rencana-rencana berikutnya untuk memecah negara itu, Mustafa Kemal memimpin gerakan nasional Turki dalam apa yang kemudian menjadi Perang Kemerdekaan Turki. Kampanye militernya yang sukses menghasilkan kemerdekaan negara ini dan terbentuknya Republik Turki. Sebagai presiden pertama negara ini, Mustafa Kemal memperkenalkan serangkaian pembaruan yang luas yang berusaha menciptakan sebuah negara modern yang sekuler dan demokratis. Menurut Hukum Nama Keluarga, Majelis Agung Turki memberikan kepada Mustafa Kemal nama "Atatürk" (yang berarti "Bapak Bangsa Turki") pada 24 November 1934.

Kisah Mustafa Kemal Ataturk di akhir hanyatnya diterima bumi semoga jadi pelajaran kita.
Mustafa Kemal Ataturk adalah penggagas Republik Turki,pemimpin revolusi & Presiden Turki yg pertama dari th 1881-1934.
Tahukah Anda jika Mustafa di anggap oleh muslim turki sebagai  pengkhianat Islam & antek negara kafir Seorang diktator pasca runtuhnya Daulah Khilafah Utsmani saat itu.
Saat menjelang ajalnya, Mustafa terkena serangan jantung akut, darah tinggi yg tak normal, gatal diseluruh tubuh, penyakit kelamin & kepanasan tiap saat
Pada 26 September 1938
‪‎MustafaKemal Atatuerk pingsan selama 36 jam sebelum akhirnya meninggal dalam keadaan membusuk karena penyakit kelaminnya, Konon tidak ada yang mau mengurus jenazah MustafaKemal Atatuerk sehingga diawetkan selama 9 hari 9 malam.

Menurut sejarah, saat akan dikubur, jenazah MustafaKemal Atatuerk tak dapat masuk liang kubur. Sehingga diawetkan dimuseum Etna Grafi Turki selama 15 th.
Setelah 15 thn, jenazah
‪‎MustafaKemal Atatuerk tetap tak dapat masuk ke liang kubur. Akhirnya jenazah dikubur dicelah batu marmer di Anitkabir Turki.
MustafaKemalAtatuerk adalah pemimpin Islam tapi kekuasaannya dianggap menghancurkan Islam.
Kisah kematian mustafaKemal Atatuerk semoga méjadi pembelajaran bagi kita semua.

Inilah 9 gagasan Mustafa Kemal Ataturk yang di terapkannya :
1) Mengganti huruf Arab dgn huruf Latin sebagai bahasa sehari-hari.
2) Mengganti pakaian Islami dengan pakaian ala kafir Barat.
3) Menghapus hari2 besar Islam & mengganti hari libur yg sebelumnya Jum’at menjadi hari Minggu.
4) Melarang warga Turki menyanyikan lagu berbahasa Arab, jika ingin bernyanyi harus dengan bahasa Inggris.
5) Melarang wanita Muslimah menggunakan hijab & niqab, diganti baju & celana jeans ketat.
6) Menghapuskan kurikulum bernuansa Islam & diganti dengan kurikulum Barat yg sekuler & atheis.
7) Mengubah tempat-tempat perhalqahan dengan bar dan diskotik.
8) Menangkap dan membunuh para politisi dan ulama Turki yg vokal mengkritik nya.
9) Menghapus sistem Khilafah & Islam dalam sistem bernegara & diganti dengan sistem sekulerisme.


Share:

Definition List

Unordered List

Support